Reintroduce My Self


Konniciwaa 👋

Hai semuanya... Apa kabar? 

Udah 2026 aja nih. Ternyata udah setahun Aku tidak menyambangi blog ini. Pantas saja berdebu di sana-sini 😂

It's okay. Selama Tuhan masih memberi umur dan kesempatan, kita masih bisa memulai kapanpun. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik, untuk menjadi baik. Bukan begitu, sahabat! Let's go..

Mari kita memulai 2026 ini dengan hal-hal baik, sekalipun januari sudah terlewati. Setidaknya  kita masih punya separo februari dan 10 bulan tersisa di tahun ini. Yuk bersama menyusun rencana, target dan make wish list untuk diri kita lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. 

Aku akan memulai dari Reintroduce My Self  alias perkenalan ulang. Pasti kalian bosan, wkwkwk sebab edisi perkenalan ini seakan tiada habisnya. Punten ya, sahabat. Menurutku perkenalan mendalam terhadap diri adalah jalan mengenal Tuhan. Semakin kita kenal siapa diri kita dengan amat sangat baik, semakin dalam kita mengenal Tuhan kita. Muara tertinggi dari 'mengenal' adalah ketenangan. 

Aku menyusun rencana dan goals ku di tahun 2026 dengan menengok ke belakang, melihat peta perjalanan pencapaian dalam hidupku hingga di detik ini. Bukan untuk pamer, namun sebagai refleksi diri. Sehingga kudapati diriku mindfulness  dan pragmatis dalam menyusun perencanaan di tahun ini.

Punten, berkali-kali kuulangi, kenalin Aku Heni, lengkapnya Heni Alliana. Perempuan Jawa. Gen Milenial. Umurku sekarang 31 tahun. Aku suka menulis, membaca dan bercerita. Pada tulisan kali ini, aku ingin bercerita mengenai "Peta Perjalanan Pencapaianku".  Selamat membaca dan berkenalan dengan aku! 😇

---

Ana, gadis kecil berusia 5,5 tahun pertama kali mendaftar ke Sekolah Dasar (SD) Negeri tanpa di dampingi orang tua, dititipkan pada tetangga yang mendaftarkan anaknya ke sekolah yang sama, sebab Mamaku harus bekerja di pasar pagi-pagi buta dan Bapakku harus  bekerja mengurus ladang. Tidak hanya itu, hari pertamaku sekolah tanpa seragam baru, tas baru ataupun sepatu baru serta pergi dan pulang sekolah mandiri bersama teman-teman sebaya tanpa diantar jemput orang tua atau saudara. 

Kelas 3 SD, aku berani memulai jualan kecil-kecilan. Yaitu menjual rujak yang modalnya aku ambil dari uang jajan. Tidak hanya itu, aku juga berjualan jambu kristal hasil panen dari saudara. Kelas 5 SD, adekku kelas 1 SD. Mulai sejak itu setiap pagi aku tidak lagi mengurus keperluan sekolahku sendiri tetapi juga mempersiapkan keperluan sekolah adekku, termasuk air mandi (kala itu masih menimba di sumur) dan memboncengnya berangkat ke sekolah. 

Selama di SD, aku selalu memperoleh juara kelas, peringkat 5 besar di setiap semesternya. Namun hingga lulus SD aku hanya bisa berada di peringkat ke-2, belum pernah meraih juara 1. Prestasi tersebut kuperoleh bukan dengan belajar mengikuti les atau bimbel melainkan dengan belajar tekun secara mandiri melalui sarana dan prasarana yang amat sangat terbatas, tanpa Hp dan internet hanya melalui buku bacaan dan latihan soal yang disediakan dari sekolah. Pernah merajuk kepada orang tua untuk mengikuti les, namun orang tua menolak karena kendala biaya. Aku SD, telah terbiasa bangun jam 3 pagi untuk membantu Mama menyiapkan sayuran, kemudian lanjut belajar. Ternyata kemandirian dan kegigihan telah terlatih sejak aku kecil.

Ketika SD pula, pertama kalinya aku pergi jauh bersama orang tuaku beserta rombongan pengajian Bapak-Ibu di kampung yaitu ziarah Walisongo. Momen ini amat sangat penting bagiku sebab, aku pertama kalinya membeli dan memiliki buku bacaan. Jangan dibayangkan buku tersebut adalah novel atau cerpen atau bacaan asyik lainnya. Buku tersebut adalah buku nonfiksi. Alih-alih bukan makanan atau pakaian yang dipilih sebagai oleh-oleh, Aku SD justru memilih buku sebagai oleh-olehnya.Tumbuh dan berkembang di desa terpencil jauh dari akses kota, sekolah tanpa perpustakaan, kemajuan IPTEK tahun 2000an belum secanggih sekarang, memiliki buku bacaan adalah harta karun tersendiri yang menyenangkan. Buku tersebut masih aku simpan hingga sekarang dan telah beberapa kali selesai kutamatkan. Dari sinilah kecintaanku terhadap buku, ilmu dan dunia literasi tumbuh menyala-nyala.

---
Heni, gadis mungil telah tumbuh remaja. Pagi belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri bergengsi di kecamatannya, sore mengaji di Madrasah Diniyyah yang berada di masjid dekat rumahnya. Kalau di SD cukup berjalan kaki ke sekolah karena jarak tempuh hanya 1 km, berbeda halnya ketika aku di SMP. Aku harus mengayuh sepeda sejauh 6 km (pulang-pergi) setiap hari, berangkat pukul 06.30 dan pulang pukul 13.30. Kemudian di jam 4 sore lanjut belajar ilmu agama di Madrasah Diniyyah (Madin) hingga pukul 5. Magrib, dilanjutkan mengaji al-Qur'an di rumah Bibi hingga isya' baru kemudian dilanjutkan belajar sebentar, lalu berlanjut membantu Mama menata sayur-mayur dan tidur di jam 9 malam. Kedisiplinan telah terbangun sejak aku remaja sebelum mengenyam pendidikan pesantren.

Pada tingkat SMP, prestasi akademikku naik level. Semula di SD tidak pernah peringkat 1, kini di sekolah SMP hampir setiap tahun aku mampu meraihnya namun tingkat kelas. Masih memiliki PR yaitu peringkat 1 Pararel se sekolahan. Aku stuck menduduki peringkat 30 besar di tahún ke-1 dan ke-2 dan 15 besar di tahún ke-3 kelulusan sekolah. Lagi dan lagi, prestasi tersebut tidak kuperoleh alih-alih dengan les atau mengikuti bimbel namun dengan belajar tekun secara mandiri memanfaatkan buku-buku perpustakaan sekolah. Di SMP ku terdapat kelas unggulan untuk siswa peringkat 1-40 dari 250 siswa setiap angkatan, aku termasuk di dalamnya. Aku menduduki peringkat ke-25 dari 250 siswa dan mendapatkan undangan untuk memasuki kelas unggulan dengan fasilitas dan pengajaran unggul dibanding kelas reguler. Namun, nasib baik belum berpihak kepadaku, aku terpaksa harus duduk di kelas reguler karena orang tuaku tidak dapat membayar SPP kelas unggulan. 

Namun ketika kelas 3, nasib baik berpihak kepadaku dan kepada siswa lain yang memiliki nasib sama sepertiku. Semua siswa peringkat 1-40 wajib memasuki kelas unggulan untuk persiapan Ujian Nasional. Sebab di kelas 3 ini semua SPP sama karena setiap kelas mendapatkan les tambahan dari sekolah. Yang biasanya pulang sekolah 13.30, ketika kelas 3 alias tahun terakhir di SMP, akut senin-kamis pulang pukul 15.00 WIB. Di kelas 3 ini aku berkesempatan mengikuti olimpiade matematika Nasional bersama 20 teman sekelasku. Sayang aku tidak lolos babak penyisihan, hanya 3 temanku yang lolos. 

Menjelang persiapan ujian sekolah, aku mengikuti tryout di luar sekolah yang diadakan oleh Sekolah Menengah Atas. Jarak tempuh sekolah tersebut jauh dari rumahku, sehingga aku berangkat di antar Bapak pagi buta dan pulang terpaksa mandiri naik angkutan umum karena orang tua atau saudara tidak ada yang bisa menjemput.  Pengalaman ini menjadi awal pembentukan keberanianku berkelana dari kota ke kota seorang diri. 

Tidak hanya berani berkelana, tetapi di fase ini aku mulai berani mengambil peran dan mengasah kemampuanku yang lain. Aku membantu ustadz dan ustadzah MADIN menggantikan mengajar ketika ada salah satu ustadz atau ustadzah berhalangan hadir. Selain itu aku juga membantu Bibiku menyimak ngaji santri cilik yang baru mulai belajar mengenal huruf hijaiyyah atau belajar menghafal surat-surat pendek. Hal ini menjadi modal awal aku belajar public speaking dan berani tampil di depan. 

Pada masa putih abu-abu, aku melanjutkan belajar di pesantren. Hidup merantau, jauh dari orang tua. Belajarku di fase ini tidak lagi sekadar di bangku sekolah atau di dampar MADIN tetapi merambah di organisasi. Semester ke-2 di tahun pertama mondok, aku dipilih menjadi wali kamar yang memimpin 10-15 santri. Kemudian semester berikutnya, aku adalah satu-satu santri SMK yang dipilih menjadi pengurus pesantren bersama santri senior di bidang keamanan, sekaligus menjabat wakil ketua OSIS di sekolah. Sekalipun aku aktif di organisasi, prestasi akademikku tetap menjadi nomer 1. Aku berhasil meraih peringkat 1 pararel berturut-turut hingga semester ke-5 dan mendapat prestasi sebagai Santri Teladan. Semester ke-6 kelulusan aku berada di peringkat ke-2, karena nilai ku hanya unggul di Ujian Sekolah sedangkan Ujian Nasionalku selisih tipis 0,2 dengan temanku yang memperoleh peringkat 1. Namun aku masih berprestasi 3 besar di kelas MADIN. 

Selain belajar organisasi, di masa putih abu-abuku aku banyak mengikuti perlombaan yang diselenggarakan oleh pesantren maupun pihak luar. Aku sempat mengikuti olimpiade Fisika di kota Wonosobo dan masuk 10 besar. Kemudian mengikuti Olimpiade matematika di salah satu SMK luar, namun belum berkesempatan menang. Kemudian mengikuti perlombaan membaca kitab kuning di pesantren, mengikuti lomba Miss Walisongo dan masuk 10 besar. Mengikuti Lomba baca Puisi tingkat sekolah dan mendapatkan juara 1, serta mengikuti workshop menulis yang diadakan oleh Putra Kyai (GUS) dan tulisanku berkesempatan mendapatkan kurasi langsung dari beliau. Di fase ini, keberanian mengeksplore seluruh minat dan bakat tumbuh besar hingga membawaku melanjutkan studi ketingkat Universitas. 

Aku adalah orang pertama yang kuliah di keluargaku, di keluarga besarku. Bahkan aku adalah perempuan pertama di kampungku yang melanjutkan sekolah hingga ketingkat Universitas. Karena mayoritas perempuan di kampungku hanya selesai pada tingkat SMP dan sedikit sekali yang melanjutkan hingga tingkat SMA, apalagi tingkat universitas. Sekalipun aku berasal dari keluarga menengah ke bawah, namun aku menolak untuk miskin secara ilmu dan pengetahuan. Karena keduanya adalah modal membangun peradaban lebih baik dan maju. Ketika aku menyampaikan niatku kepada orang tua untuk melanjutkan sekolah ke Univertias, beliau berkata,
 "Kuliah iku larang ragat e, An!"
"InsyAllah wonten rezekine, Ma. Gusti Allah Maha Kaya.", aku mengucap dengan penuh keyakinan dan kemantaban. Tiada sangka, aku bisa melanjutkan kuliah hingga Strata dua plus belajar di Pesantren dengan tanpa beasiswa alias semua biaya mandiri dari orang tua. Hadza min fadhli Robbi.

Bersambung...

InsyAllah akan disambung next part 2. Kuy stay tuned ya...







Komentar

Tulisan Lainnya

A Cup of Tea

Manfaat belajar filsafat