My Travel Map Part 2
Ramadan day-3
Alhamdulillah :) siang yang mendung dan sejuk, di tempat yang penuh dengan keberkahan al-Qur'an. MasyAllah...💙
"Nikmat mana lagi yang kau dustakan."- Q.s. ar-Rahman:13 dan diulang sebanyak 31x dalam surat ar-Rahman.
---
To The Point, tulisan kali ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai peta perjalanan pencapaian dalam hidupku. Punten sekali lagi, kenalin aku Heni, lengkapnya Heni Alliana. Perempuan Jawa. Gen Milenial yang suka menulis, membaca dan bercerita.
Pada tulisan ini aku akan bercerita tentang episode hidupku kala merantau ke kota Istimewa, Yogyakarta, untuk menuntut ilmu. Menghafalkan al-Qur'an dan kuliah.
Babak baru, perjuangan baru dalam hidupku di mulai. Mulai dări mendaftarkan kuliah seorang diri tanpa didampingi orang tua. Semula anti transportasi umum, sebab sering mabok perjalanan hingga aku menjadi bisa melewatinya dan terbiasa. Kemudian ketika aku telah memiliki SIM C, kendaraan harian dan kendaraan PP Jogja-Sragen adalah sepeda motor. Menjadi mahasiswa adalah paket komplet perjuangan jiwa raga.
Aku dinyatakan diterima di pesantren Wahid Hasyim asrama utama Hufadz setelah tes dengan tanpa memiliki hafalan sebelumnya. Selang satu minggu dari penerimaan santri baru Hufadz, aku diterima di kampus putih, namun bukan pada jurusan utama. Alih-alih aku inginnya keterima di jurusan Teknik Informatika untuk meneruskan belajar di SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), malah keterima di jurusan Bahasa dan Sastra Arab pilihan ke-3. Pada saat itu hatiku antara senang dan tidak senang, namun di sisi lain ada salah satu temanku yang tidak keterima, padahal di pesantren ia sudah membeli peralatan tidur dan almari.
Singkat cerita, kujalani perkuliahan dengan tertatih-tatih sebab basic Bahasa Arab yang kumiliki hanya sedikit, amat sangat sedikit. Aku sangat kesulitan untuk mengikuti perkuliahan terutama di matkul utama berbahasa Arab. Namun ada banyak hal yang Aku syukuri dari proses yang tidak mudah ini. Aku sering konsul kepada DPA (dosen pembimbing akademik), hingga dikenal dihafal hingga menjadi support systemku. Selain itu aku menemukan teman, sahabat yang solid hingga sekarang yang kami beri nama "Genk Milo". Di tahun ke-2 perkuliahan aku berhasil memberanikan diri untuk mengikuti lomba debat bahasa Arab yang diadakan oleh Pusat Bahasa Kampus dan mendapatkan juara 3. Dan di kelas bahasa Inggris, aku mengikuti lomba menulis essay dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya. sekalipun belum menang, namun aku saya senang bisa mewakili kelasku untuk maju mengikuti perlombaan tersebut dan melalui hal tersebut aku dikenal dan dekat dengan dosen bahasa Inggrisku.
Di semester tiga akhir aku juga berkesempatan mengikuti training dan proyek pembuatan buku untuk mahasiswa difabel yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Kampus. Dari Proyek itu akut mendapatkan uang jajan tambahan. Di semester 4 aku lolos mendapatkan beasiswa dari bank Indonesia melalui prestasi nilai akademik, hingga mampu membantu pembayaran di semester berikutnya. Di tahun yang sama Aku berhasil mengumpulkan buku/karya sastra Arab hasil downloadan berjumlah kurang lebih 250 buku dan dihibahkan ke perpustakaan facultas sebagai bahan literasi tambahan untuk mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Arab. Kemudian di penelitian tugas akhir, akut mendapatkan kesempatan mengajukan proposal penelitian ke LP2M kampus untuk mendapatkan bantuan penelitian, buah dari aku dikenal dan aktif perkuliah oleh dosen yang mengurusi beasiswa tersebut. Aku lolos beasiswa penelitian tersebut, dan dananya bisa aku manfaatkan selain untuk penebitian adalah untuk biaya sidang dan wisuda.
Aku juga menjadi mahasiswa perempuan pertama diangkatanku yang maju seminar proposal. Aku dapat lulus tepat waktu, meskipun di awal aku adalah mahasiswa salah jurusan dengan basic pengetahuan dan ketrampilan bahasa Arab yang amat sangat kurang. Dengan segala keterbatasan, kondisi dan situasi serta tanggung jawab di pesantren yang tidak sedikit, aku mampu menyelesaikan perkuliahan S1 dengan baik dengan nilai nyaris cumlaude.
Di Sisi lain-di Pesantren, skill menghafalku juga tidak tergolong bagus. Hingga aku tertinggal oleh beberapa temanku. Di Tahun ke-2 menghafal aku baru mendapatkan 9 juz dari total 30 juz. Namun, aku terus mengupayakan ketika mengaji kepada Bu Nyai, aku berada di baris terdepan dan dengan ngaji hafalan yang lancar meskipun sedikit. Dalam situasi dan kondisi apapun, aku mengupayakan tetap berangkat mengaji dan menyetorkan hafalan al-Qur'an kepada Bu Nyai. Berkat hal tersebut aku dikenal dan dekat dengan bu Nyaiku. Padahal santri di pesantrenku mencapai 2500 santri, dengan total santri mahasiswa Tahfidz Putri kisaran 500 an santri. Hingga aku mendapatkan kesempatan menjadi penderek (pengawal) Beliau, kemanapun beliau pergi. Selain itu, aku mendapatkan beberapa tugas khusus yang tidak diberikan kapada santri lainnya, yaitu merawat anggrek-anggrek beliau, dan memesankan habatussauda' setiap kali habis. Hal ini merupakan pengalaman belajar yang amat sangat luar biasa untukku yang notabene santri biasa, dari keluarga biasa dan prestasi yang belum seberapa.
Di tahun ke-2 menjelang ke-3, aku ditunjuk dan dipilih oleh Pengasuh Pesantren untuk turut andil dalam pengelolaan pendidikan di pesantren. Menjadi pembina/guru pendamping asrama anak-anak MI, mengajar di pendidikan formal dan non formalnya MI. Semula akü adalah santri tahfidz dan mahasiswa yang kesehariannya hanya ngaji dan kuliah, pada tahun ke-3 dan seterusnya aku memiliki peran ganda dan rangkap. Santri tahfidz, Mahasiwa dan juga Santri pengabdian. Keseharianku pagi kuliah dan ngoni setor hafalan, siang-sore mengajar, malam mendampingi santri MI begitu dan seterusnya. Hingga ketika tengah mengerjakan skripsi kampus, di waktu bersamaan Aku juga tengah mengerjakan skripsi Ma'had 'aly di pesantren. Tadinya aku ingin mengundurkan diri dari mahasantri Ma'had 'Aly di pesantren, mengingat partisipasiku amat sangat kurang dan pasif sebab tanggung jawab di kepembinaan asrama MI lebin menyita waktu dan fokusku. Namun, beliau Bapak pengasuh memintaku untuk maju dan mengikuti hingga selesai pengerjaan tugas akhir dan sidang munaqosyah.
Di tahun ke 4 aku menyantri, aku dipindah tugaskan ke asrama MA (Madrasah Aliyah) untuk mendampingi santri tahasus MA (sederajat SMA). Tidak hanya menjadi pembina di asrama, tetapi aku juga ditunjuk untuk menjadi staff dan guru di lembaga formal MA. Dua tahun berikutnya ketika aku melanjutkan studi S2, aku dipindahkan ke asrama mahasiswa non tahfidz sebagai ketua asrama. Kemudian 2,5 tahun berikutnya akü dipindahakan ke asrama pertama, yaitu asrama hufadz bersama beberapa santri pilihan untuk mengisi kekosongan asrama saat masa pandemi. Pada masa pandemi adalah masa aku mengerjakan tugas akhir tesis S2 ku, pada masa itu menjadi guru tahfidz intensive di MA Darul Qur'an yang kesehariannya menyimak hafalan santri-santri MA Darul Qur'an secara online 3x sehari. Real WFH.
Usai pandemi, setelah drama panjang, aku bisa sidang tesis dan lulus S2 dengan prestasi memuaskan bukan cumlaude, dengan IPK 3.6. Alhamdulillah. Di waktu bersamaan, aku diberi amanah baru untuk bergabung ke SMP, hingga aku pindah asrama dan dengan otomatis akü juga mengikuti perkantoran dan pengajaran di SMP. Aku menjadi guru Tahfidz, wali kelas, Guru mapel bahasa Indonesia selain itu juga menjadi waka magian BK. dan di asrama posisiku sebagai Wali asrama yang membawahi pembina asrama-asrama.
Aku juga berkesempatan menjadi bagian dari jajaran Asatidz Madrasah Diniyyah, yaitu pengajar Santri Mahasiwa dan Dewan Syuro (Dewan pertimbangan pesantren). Posisi ini langsung dari Bapak Ibu pengasuh yang memilih.
Di bulan April 2024 menjadi moment terindah, pencapaian tertinggiku selama menyantri yaitu wisuda khotmil Qur'an Bil Ghoib 30 Juz. Alhamdulillah setelah perjuangan panjang 12 tahun menghafal al-Qur'an, dengan pertolongan rahmat Allah SWT aku mampu menyelesaikan hafalan. Lengkap sudah, aku menyelesaikan studi kampusku hingga S2, menyelesaikan hafalan al-Qur'an 30 juz dan berhidmah di pesantren dengan memaksimalkan semua peran. MasyAllah, hadza min fadli rabbi.
Komentar
Posting Komentar